Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2021

Tabel Periodik Unsur Kimia: Pengertian, Keterangan, dan Cara Membacanya


Tabel Periodik Unsur Kimia




Tabel Periodik – Unsur kimia adalah zat kimia yang tidak dapat dibagi lagi (diubah menjadi zat yang kecil) jika menggunakan metode kimia yang biasa.





Jumlah unsur totalnya ada 118 unsur. Bisa dilihat di tabel periodik di bawah.






Pengertian Tabel Periodik





Pengertian tabel periodik adalah tabel yang menampilkan unsur – unsur kimia. 





Unsur – unsur tersebut di susun berdasarkan nomor atom yaitu jumlah proton dalam inti atom, konfigurasi elektron, dan keberulangan sifat kimia.





Tabel periodik terbagi menjadi 4 blok, yaitu blok -s, -p, -d, dan -f. 





Secara umum, dalam satu periode atau baris, di sebelah kiri bersifat logam, dan di sebelah kanan bersifat non-logam.





Ciri – Ciri Unsur Logam





  1. Kerapatan pada unsurnya tinggi
  2. Unsur bersifat konduktor
  3. Padat (dapat dibentuk/ditempa)




Ciri – Ciri Unsur Non Logam





  1. Kerapatan pada unsurnya rendah
  2. Unsur bersifat isolator
  3. Rapuh




Untuk lebih detailnya dapat dilihat di gambar tabel periodik di bawah ini





Tabel Periodik Unsur





Tabel Periodik




Keterangan Tabel Periodik





  1. Baris pada tabel di sebut dengan periode, lalu kolom di sebut dengan golongan.
  2. Ada 6 golongan ( kolom ) mempunyai nama selain nomor. Contoh nya adalah unsur golongan 17 ialah halogen, dan golongan 18 nya ialah gas mulia.
  3. Tabel periodik dapat digunakan untuk menurunkan hubungan antara sifat – sifat unsur, dan memperkirakan sifat unsur baru yang belum ditemukan.
  4. Tabel periodik memberikan kerangka kerja untuk melakukan analisis perilaku kimia, banyak digunakan dalam bidang kimia.




Keterangan Unsur Kimia di Tabel Periodik





No atomSimbolUnsur Kimia
1Hhidrogen
2Hehelium
3Lilithium
4Beberyllium
5Bboron
6Ccarbon
7Nnitrogen
8Ooxygen
9Ffluorine
10Neneon
11Nasodium
12Mgmagnesium
13Alaluminum
14Sisilicon
15Pphosphorus
16Ssulfur
17Clchlorine
18Arargon
19Kpotassium
20Cacalcium
21Scscandium
22Tititanium
23Vvanadium
24Crchromium
25Mnmanganese
26Feiron
27Cocobalt
28Ninickel
29Cucopper
30Znzinc
31Gagallium
32Gegermanium
33Asarsenic
34Seselenium
35Brbromine
36Krkrypton
37Rbrubidium
38Srstrontium
39Yyttrium
40Zrzirconium
41Nbniobium
42Momolybdenum
43Tctechnetium
44Ruruthenium
45Rhrhodium
46Pdpalladium
47Agsilver
48Cdcadmium
49Inindium
50Sntin
51Sbantimony
52Tetellurium
53Iiodine
54Xexenon
55Cscesium
56Babarium
57Lalanthanum
58Cecerium
59Prpraseodymium
60Ndneodymium
61Pmpromethium
62Smsamarium
63Eueuropium
64Gdgadolinium
65Tbterbium
66Dydysprosium
67Hoholmium
68Ererbium
69Tmthulium
70Ybytterbium
71Lulutetium
72Hfhafnium
73Tatantalum
74Wtungsten
75Rerhenium
76Ososmium
77Iriridium
78Ptplatinum
79Augold
80Hgmercury
81Tlthallium
82Pblead
83Bibismuth
84Popolonium
85Atastatine
86Rnradon
87Frfrancium
88Raradium
89Acactinium
90Ththorium
91Paprotactinium
92Uuranium
93Npneptunium
94Puplutonium
95Amamericium
96Cmcurium
97Bkberkelium
98Cfcalifornium
99Eseinsteinium
100Fmfermium
101Mdmendelevium
102Nonobelium
103Lrlawrencium
104Rfrutherfordium
105Dbdubnium
106Sgseaborgium
107BhBohrium
108HsHassium
109Mtmeitnerium
110DsDarmstadtium
111RgRoentgenium
112CnCopernicium
113UutUnuntrium
114UuqUnunquadium
115UupUnunpentium
116UuhUnunhexium
117UusUnunseptium
118UuoUnunoctium




Cara Membaca Tabel Periodik





Tabel Periodik Magnesium




Penjelasan dari gambar diatas yaitu Mg merupakan lambang dari unsur Magnesium.





Pada unsur tersebut memiliki nomor atom 12 serta untuk nomor massanya ialah 24.31.





Unsur – Unsur Dalam Sistem Periodik





Golongan IA ( Logam Alkali )





Untuk golongan IA semua logamnya tergolong logam yang lunak kira – kira sekeras karet penghapus. 





Dapat diiris dengan pisau, serta massa jenisnya ringan. 





li, Na, dan K semua nya kurang dari 1 g/cm3.





Golongan IIA ( Logam Akali Tanah )





Logam alkali tanah atau di singkat IIA tergolong logam yang aktif.





Kereaktifannya kurang dibandingakan dengan logam alkali seperiode. 





Hanya bisa terbakar di udara bila dipanaskan, kecuali dengan berelium karna logam alkali tanah hanya larut dalam air. 





Dgunakan sebagai obat mag dalam kesehatan.





Golongan VIIA ( Halogen )





Golongan dari VIIA merupakan kelompok unsur nonlogam yang sangat reaktif. 





Hal itu berkaitan dengan elektron valensinya yang berjumlah 7, sehingga hanya memerlukan tambahan 1 elektron saja untuk mencapai konfigurasi stabil seperti contoh pada gas mulia.





Golongan VIIIA ( Gas Mulia )





Unsur – unsur dari golongan VIIIA, yaitu helium, Neon, Argon, Kripton, Xenon, sangat susah bereaksi dengan unsur yang lainnya. 





Di dalam nya tidak ditemukan satu pun senyawa alami dari unsur – unsurnya.





Golongan B ( Unsur Transisi )





Lalu pada transisi adalah unsur – unsur golongan tambahan ( golongan B ).
Seluruh unsur dari nomor atom 1 ( hidrogen ) hingga 118 ( oganesson ) telah ditemukan. 





Dengan penambahan terbaru (nihonium, moscovium, tennessine, dan oganesson) yang telah dikonfirmasi oleh International Union of Pure and Applied Chemistry ( IUPAC ) pada tanggal 30 Desember 2015 dan secara resmi telah diberi nama pada tanggal 28 November 2016, mereka menyelesaikan 7 baris pertama Tabel periodik.





94 unsur pertama terdapat secara alami, meskipun beberapa nya ditemukan dalam jumlah renik dan disintesis dalam laboratorium sebelum ditemukan di alam. 





Unsur-unsur dari nomor atom 95 hingga 118 adalah unsur sintetis yang dibuat di laboratorium.
Unsur-unsur dari nomor 95 – 100 ditemukan di alam, tetapi saat ini tidak dijumpai lagi. 





Sintesis unsur dengan nomor atom yang lebih besar masih terus dikembangkan. 





Sejumlah radionuklida sintetis atau unsur yang berada di alam telah diproduksi di laboratorium.





Pelajari Materi Terkait





5 Hukum Dasar Kimia





Hidrolisis Garam





Koloid





Polimer





Mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, & Fraksi Mol



Sumber gini.com

Minggu, 03 Januari 2021

5 Hukum Dasar Kimia: Bunyi, Rumus, dan Contohnya


Dalam mempelajari hukum dasar dan perhitungan kimia, kita tidak akan lepas dari konsep mol, yaitu suatu konsep yang menghubungkan suatu satuan dengan satuan kimia yang lain.





Mol adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan jumlah partikel suatu zat.





Konsep mol membantu dan mempermudah kita dalam melakukan perhitungan kimia dan penentuan rumus kimia zat.





Konsep mol, perhitungan kimia, dan penentuan rumus kimia didasari oleh hukum-hukum dasar dalam ilmu kimia, yaitu hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan berganda, hukum penggabungan volume, dan hipotesis Avogadro.





Berikut adalah penjelasan singkat 5 Hukum Dasar Kimia






1. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier, 1743 – 1794)





Hukum Kekekalan Massa Antoine Laurent Lavoisier




Antoine Laurent Lavoisier berpendapat bahwa massa zat – zat sebelum dan sesudah reaksi yakni tetap.





Jika kita mencampurkan atau mereaksikan hidrogen dengan massa 4 gram dan oksigen dengan massa 32 gram. Maka akan menghasilkan hidrogen oksida dengan massa 36 gram




Contoh




Massa hidrogen oksida = massa hidrogen + massa oksigen





Massa hidrogen oksida = 4 gram + 32 gram





Massa hidrogen oksida = 36 gram.









Namun, untuk beberapa kasus seperti membakar kertas lalu menjadi abu.





Bisa saja abu lebih ringan daripada kertas, sehingga reaksinya di hasilkan dari reaksi lainnya seperti abu dan gas CO² yang hilang terbawa angin.





Lalu pada tahun 1779, Lavoisier melakukan uji coba dengan memanaskan 530 gram logam merkuri dalam sebuah wadah yang terhubung dengan udara di dalam silindernya dengan sebuah wadah tertutup.





Ternyata volume udara di dalam silinder berkurang sebanyak 1/5 bagian, sedangkan logam merkurinya berubah menjadi calx merkuri (oksida merkuri) dengan massa 572,4 gram.





Terjadi kenaikan massa sebesar 42, 4 gram. Besaran kenaikan massa merkuri ini sebesar 42, 4 gram yakni sama dengan 1/5 bagian udara yang telah hilang yakni oksigen.





Lalu kemudian Lavoiser mengambil sebuah kesimpulan yang dikenal dengan hukum kekekalan massa yakni :





“Massa zat – zat sebelum dan sesudah reaksi yakni tetap”





2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust , 1754 – 1826)





Hukum Perbandingan Tetap Joseph Louist Proust




Joseph Louist Proust berpendapat bahwa perbandingan massa unsur – unsur penyusun sebuah senyawa selalu tetap.





Contohnya adalah perbandingan massa hidrogen dengan oksigen yaitu 1 : 8.





Misalkan massa jenis hidrogen yaitu 4 gram. Maka massa oksigennya ialah 4 gram x 8 gram = 32 gram.





Massa Hidrogen yang direaksikan (g)Massa Oksigen yang Direaksikan (g)Massa Air yang Terbentuk (g)Sisa Hidrogen atau Oksigen (g)
189
2891 g hidrogen
1991 g oksigen
21618




Dari tabel di atas terlihat, bahwa setiap 1 gram gas hidrogen bereaksi dengan 8 gram oksigen dan menghasilkan 9 gram air.





Hal ini membuktikan bahwa massa hidrogen dan massa oksigen yang terkandung di dalam air memiliki perbandingan yang tetap yaitu 1 : 8.





Berapapun banyaknya air yang terbentuk dari percobaan yang dilakukannya, Proust mengemukakan teorinya yang terkenal dengan sebutan hukum perbandingan tetap yang berbunyi:





“Perbandingan massa unsur – unsur dalam sebuah senyawa yakni tetap”





3. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton , 1766 – 1844)





Hukum Perbandingan Berganda Dalton




Dalton menyelidiki bahwa perbandingan massa unsur – unsur pada setiap senyawa dan mendapatkan sebuah pola keteraturan.





Pola tersebut dinyatakan sebagai hukum perbandingan berganda yang menegaskan bahwa kedua unsur yang dapat membentuk 2 senyawa atau lebih memiliki perbandingan komponen yang mudah dan sederhana.





Pada percobaan yang pertama:





1,33 gram oksigen direaksikan dengan 1 gram karbon. Reaksi ini menghasilkan 2, 33 gram karbon monoksida.





Pada percobaan yang kedua:





Massa oksigen diubah menjadi 2,66 gram sementara massa karbonnya tetap. Reaksi ini menghasilkan suatu senyawa yang berbeda, yakni karbon dioksida.





Jenis SenyawaMassa Karbon yang DireaksikanMassa Oksigen yang DireaksikanMassa Senyawa yang terbentuk
Karbon monoksida1,33 g1,00 g2,33 g
Karbon dioksida2,66 g1,00 g3,66 g




Dengan massa oksigen yang sama, perbandingan massa karbon dalam senyawa karbon monoksida dan karbon dioksida adalah bilangan bulat dan sederhana.





Dalton mengemukakan teorinya yang terkenal dengan sebutan Hukum Perbandingan Berganda yang berbunyi :





“Jika 2 jenis unsur bergabung dan membentuk lebih dari 1 senyawa dan jika massa salah satu dari unsur di dalam senyawa tersebut sama, sedangkan massa unsur lainnya berbeda, maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa tersebut ialah bilangan bulat sederhana”





4. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac, 1808)





Hukum Perbandingan Volume Joseph Louis Gay Lussac




Pada tahun 1808, Joseph Louis Gay Lussac (seorang ilmuwan Prancis) berhasil melakukan uji coba volume gas yang terlibat dari berbagai reaksi dengan menggunakan berbagai macam gas.





Percobaan keVolume Gas Oksigen yang Direaksikan (L)Volume Gas Hidrogen yang Direaksikan (L)Volume Uap Air yang Direaksikan (L)
1122
2244
3366




Menurut Gay Lussac, 2 volume gas hidrogen bereaksi dengan 1 volume gas oksigen dan membentuk 2 volume uap air.





Pada reaksi ini pembentukan uap air agar reaksi sempurna untuk setiap 2 volume gas hidrogen diperlukan 1 volume gas oksigen. Menghasilkan 2 volume uap air.





Gay-Lussac mengemukakan teorinya yang terkenal dengan sebutan Hukum Perbandingan Volume, yang berbunyi :





“Pada suhu dan tekanan yang sama, volume pada gas – gas yang bereaksi dan volume pada gas – gas hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana”





Dapat dirumuskan sebagai berikut:





Hukum Perbandingan Volume




5. Hukum Hipotesis (Hukum Avogadro, 1811)





Hukum Hipotesis Avogadro




Hukum Avogadro dicetuskan pada tahun 1811 oleh seorang ahli fisika dari Italia yang dikenal dengan nama Amedeo Avogadro.





Amedeo Avogadro mengemukakan teorinya yang terkenal dengan sebutan Hukum Hipotesis yang berbunyi :





“Gas – gas yang volumenya sama, jika diukur dengan suhu dan tekanan yang sama, maka akan memiliki jumlah molekul yang sama pula”





Itulah penjelasan tentang 5 hukum dasar kimia. Semoga bermanfaat.





Pelajari lebih Lanjut





Tabel Periodik Unsur Kimia





Hidrolisis Garam





Koloid



Sumber gini.com

Jumat, 01 Januari 2021

Jumlah Mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, & Fraksi Mol


Di pertemuan kali ini kita akan menyampaikan materi tentang perhitungan jumlah mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, dan Fraksi Mol Suatu Larutan. Langsung saja simak pembahasannya berikut.






Jumlah Mol





Banyaknya zat / senyawa dinyatakan dalam besaran mol. Konsentrasi molaritas, molalitas, normalitas, & fraksi mol memakai satuan kuantitas zat atau senyawa dalam mol.





Mol adalah suatu gram zat yang dibagi dengan massa molekul relatif (Mr). Mol sebuah senyawa dihitung dengan rumus berikut.




Rumus Jumlah Mol




n = gr/Mr





Keterangan:





  • n = mol suatu zat (mol)
  • Mr = massa molekul relatif suatu zat (gr/mol)
  • gr = massa suatu zat (gram)








Molaritas Larutan (M)





Molaritas adalah suatu besaran yang menunjukkan jumlah mol zat terlarut pada setiap satuan volume larutan. Molaritas dinyatakan dengan satuan molar ( M ) atau mol/liter.





Rumus molaritas untuk (n) mol senyawa terlarut dalam ( V ) liter larutan adalah sebagai berikut :




Rumus Molaritas Larutan




M = n / V





Keterangan:





  • M = molaritas suatu zat (mol/L)
  • V = volume larutan (ml)








Molalitas Larutan (m)





Molalitas adalah besaran yang menunjukkan jumlah mol zat terlarut pada setiap satuan berat pelarut. Molalitas dinyatakan dalam satuan molal (m) atau mol/kg.





Rumus molalitas untuk (n) mol senyawa yang dilarutkan ke (P) kilogram pelarut adalah sebagai berikut :




Rumus Molalitas Larutan




m = n / P





Keterangan:





  • m = molalitas suatu zat (molal)
  • n = mol suatu zat (mol)
  • p = massa pelarut (gr)








Normalitas Larutan (N)





Normalitas adalah suatu besaran yang menunjukkan jumlah mol ekivalen zat terlarut pada setiap satuan volume larutan. Normalitas dinyatakan dengan satuan normal (N) atau mol ekivalen/liter.





Besarnya normalitas larutan dapat dihitung dengan rumus berikut:




Rumus Normalitas Larutan




N = ek / V





atau





N = n × a / V





atau





N = M × a





Keterangan:





  • N = normalitas (mol ek/L)
  • n = mol suatu zat (mol)
  • V = volume larutan (liter)
  • a = ekivalen suatu zat




mol ek atau mol ekivalen merupakan jumlah mol dikali jumlah ion OH– atau ion H+. Apabila dalam n mol zat terlarut memiliki sebanyak a OH– atau ion H+, besarnya mol ekivalen (ek) dinyatakan dengan rumus berikut:





Ek = n × a





Untuk asam, 1 mol ek setara dengan 1 mol ion H+





Untuk basa, 1 mol ek setara dengan 1 mol ion OH–









Fraksi Mol Larutan





Fraksi mol adalah perbandingan jumlah mol dari sebuah komponen larutan dengan jumlah mol keseluruhan dari komponen larutan.





Dikarenakan fraksi mol adalah sebuah perbandingan mol, maka fraksi mol tidak memiliki satuan.




Rumus Fraksi Mol Larutan




Apabila suatu larutan terdiri dari komponen A dan B dengan jumlah mol nA dan nB, maka fraksi mol A (xA) & fraksi mol B (xB) dapat dihitung dengan rumus berikut:





Fraksi Mol Larutan








Contoh Soal Molaritas, Molalitas, Perhitungan Mol, Normalitas, dan Fraksi Mol





1. Contoh Soal Perhitungan Mol





Diketahui 10 gr garam dapur (NaCl) mempunyai massa relatif molekulnya 58,5. Maka hitunglah jumlah molnya.





Pembahasan




n = gr/Mr





n = 10 gr / (58,5 gr/mol)





n = 0,171 mol





Jadi, 10 gram dari garam dapur memiliki jumlah mol 0,171 mol.









2. Contoh Soal Perhitungan Molaritas Larutan





Diketahui larutan urea (CO( NH2 )2) sebanyak 0,25 liter dibuat untuk melarutkan urea dalam air sebanyak 3 gram yang memiliki massa molekul relatif 60. Maka Molaritas larutan urea adalah:





Pembahasan






M = n / V





n = gr/Mr





n = 3 / 60 mol





n = 0,05 mol





M = 0,05 / 0,25 molar





M = 0,2 molar





Jadi, larutan urea memiliki molaritas sebesar 0,2 molar.









3. Contoh Soal Molalitas Larutan





Diketahui natrium hidroksida (NaOH) sebnayak 10 gram dengan massa molekul relatif 40 dilarutkan ke dalam air sebanyak 2 kg. Tentukan molalitas larutan NaOH.





Pembahasan






m = n / P





n = 10 / 40 mol





n = 0,25 mol





m = 0,25 / 2 molal





m = 0,125 molal





Jadi, larutan NaOH tersebut memiliki molalitas sebesar 0,125 molal.









4. Contoh Soal Normalitas Larutan





Diketahui larutan NaOH sebanyak 0,5 liter dihasilkan dengan cara melarutkan NaOH (Mr = 40) sebanyak 5 gram ke dalam air. Hitunglah normalitas larutan tersebut





Pembahasan






N = ek / V





ek = n × a





n = gr / Mr





n = 5 / 40 mol





n = 0,125 mol





Jumlah ion OH– = a = 1.





ek = 0,125 × 1





ek = 0,125





N = 0,125 / 0,5 N





N = 0,25 N





Jadi, larutan tersebut memiliki normalitas sebesar 0,25 N.









5. Contoh Soal Perhitungan Fraksi Mol





Sebuah larutan tersusun atas garam dapur (Mr = 58,5 sebanyak) 5,85 gram yang dilarutkan ke dalam air (Mr = 18) sebanyak 90 gram. Tentukan fraksi mol garam dapur & fraksi mol air tersebut.





Pembahasan






ngaram = 5,85 / 58,5 = 0,1 mol





nair = 90 / 18 = 5 mol





xgaram  = ngaram / (ngaram + nair)





xgaram  = 0,1 / (0,1 + 5)





xgaram  = 0,0196





Xair  = nair / (ngaram + nair)





xair  = 5 / (0,1 + 5)





xair  = 0,9804





xgaram juga dapat dihitung dengan rumus





xair  = 1 – xgaram





xair  = 1 – 0,0196





xair  = 0,9804





Jadi fraksi mol garam dapur adalah 0,0196 & fraksi mol air adalah 0,9804.









Demikian penjelasan lengkap tentang rumus perhitungan mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, dan Fraksi Mol Larutan. Semoga bermanfaat…



Sumber gini.com

Kamis, 24 Desember 2020

Polimer: Pengertian, Struktur, Jenis, dan Reaksi


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang polimer. Langsung saja simak pembahasannya berikut mulai dari pengertiannya.






Pengertian Polimer





Polimer merupakan suatu molekul raksasa (makromolekul) berbentuk jaringan atau rantai yang tersusun dari banyak monomer secara berulang dan terikat oleh ikatan kovalen.





Apa itu monomer?





Pengertian Monomer





Monomer adalah suatu zat atau molekul-molukul kecil yang sederhana yang dapat dikonversi menjadi suatu polimer.





Beberapa contoh monomer adalah lemak, protein, karbohidrat, karet alam, Plastik polipropilena PP, plastik seperti polietilene (PE), plastik polivinil chloride PVC, plastik polietilen tereftalat PET, plastik polistirena PS, nilon, dan teflon.





Struktur Polimer





Susunan polimer berdasarkan strukturnya adalah sebagai berikut.





Polimer linear





Polimer linear adalah polimer yang tersusun atas rantai panjang atom-atom kerangka yang bisa mengikat gugus substituen. Polimer linear bisa larut dalam pelarut dalam keadaan padat dengan suhu normal.





Polimer Bercabang





Polimer bercabang adalah polimer linear yang bercabang pada struktur dasarnya sebagai rantai utama.





Polimer Jaringan Tiga Dimensi





Polimer jaringan tiga dimensi merupakan polimer yang ikatan kimianya terletak di antara rantai.





Bahan ini biasanya digembungkan tidak sampai larut oleh pelarut. Ketidaklarutan ini merupakan kriteria struktur jaringan.





Semakin besar persen sambung-silangnya, maka semakin kecil jumlah penggembungannya.





Apabila derajat sambung-silangnya tinggi, polimer bisa jadi kaku, titik lelehnya tinggi, padat hingga tak dapat digembungkan, sepeti diamond.





Jenis-jenis Polimer





Jenis Polimer Berdasarkan Sumbernya





Jenis PolimerKeterangan
Polimer AlamPolimer alam adalah polimer yang berasal dari alam.
Polimer SintetisPolimer sintetis adalah polimer yang tidak berasal dari alam.




Jenis Polimer Berdasarkan Monomer Penyusunnya





Jenis PolimerKeteranganContoh
HomopolimerHomopolimer adalah polimer yang tersusun atas 1 jenis monomerpolipropilena (propena), polietilena (etena), polistirena (stirena), poliisoprena (isoprena), PVA (vinil asetat), PVC (vinil klorida), dan PAN (akrilonitril)
KopolimerKopolimer adalah polimer yang tersusun atas 2 jenis atau lebih monomernilon 6,6, dakron, ABS (akrilonitril+butadiena+stirena), SBR (stirena+butadiena)




Jenis Polimer Berdasarkan Sifatnya





Jenis PolimerKeteranganStrukturContoh
Termoplaspolimer yang menjadi lunak apabila dipanaskan, bisa dicetak lagi jadi bentuk lain. Bersifat kuat, ringan, dan transparanterdiri dari rantai-rantai panjang yang memiliki gaya interaksi antar molekul lemahpolipropilena, polietilena, PVC, dan PET
Termosetpolimer yang berbentuk permanen dan tidak jadi lunak meski dipanaskanMemiliki banyak ikatan kovalen yang kuat antar rantai molekulMelamin, bakelit
Elastomerpolimer yang elastis, bentuknya bisa diregangkan, tapi bisa kembali ke bentuk semula jika gaya tariknya hilangTersusun atas rantai-rantai yang tumpang tindih karena ikatan silang yang menarik kembali rantai-rantai tersebut ke susunan tumpang tindihnya kembalikaret alam / poliisoprena, karet sintetis SBR




Reaksi Polimerisasi





Reaksi Polimerisasi adalah reaksi pembentukan polimer dari monomernya. Reaksi ini ada 2 jenis, yaitu:





Polimerisasi adisi





Polimerisasi adisi adalah reaksi pembentukan polimer dari monomer-monomer yang berikatan tak jenuh (rangkap).





Monomer yang direaksikan pada polimerisasi ini adalah senyawa alkena & turunannya. Polimerisasi adisi menghasilkan polimer adisi sebagai produk tunggal.





Contoh reaksi polimerisasi adisi:





  • Pembentukan PVC dari vinil klorida
  • Pembentukan polietilena (PE) dari etena 
  • Pembentukan poliisoprena dari isoprena




Polimerisasi kondensasi





Polimerisasi kondensasi adalah reaksi penggabungan monomer yang terjadi antara 2 gugus fungsi berbeda dari masing-masing monomer.





Polimerisasi kondensasi menghasilkan polimer dan molekul-molekul kecil. Contoh reaksi polimerisasi kondensasi :





  • Pembentukan poliamida: nilon 66 dari asam adipat dan heksametilendiamina
  • Pembentukan poliester: PET dari dimetil tereftalat dan etilena glikol




Aplikasi / Penggunaan Polimer Sintetis dalam Kehidupan Sehari-hari





Jenis PolimerContoh Penggunaan
PVC (Polivinil klorida)jas hujan, selang air, insulasi listrik, pipa, pelapis lantai
PS (Polistirena)sendok, garpu, kotak kaset, pisau plastik,
PE (Polietilena)botol plastik, kantong plastik, plastik lembaran, pembungkus kabel, dan mainan
PP (Polipropilena)botol plastik, karung plastik, tali, karpet, mainan, peralatan laboratorium
PTFE (Politetrafluoroetilena)gasket, pelapis panci anti lengket, pelapis tangki bahan kimia
PMMA (Polimetil metakrilat)alat optik, furnitur, kaca jendela pesawat terbang, dan glove box
PET (Polietilena tereftalat)pita perekam magnetik, botol minuman, kemasan barang, layar perahu
Nilontali, parasut, jala, tenda, karpet, jas hujan




Demikian pembahasan tentang Polimer. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Jumlah Mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, & Fraksi Mol





5 Hukum Dasar Kimia





Tabel Periodik Unsur Kimia





Koloid





Hidrolisis Garam



Sumber gini.com

Selasa, 15 Desember 2020

Hidrolisis Garam: Pengertian, Jenis, Rumus, Contoh


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Hidrolosis Garam mulai dari pengertian, jenis, rumus, serta contoh soal dan pembahasannya. 





Langsung saja baca penjelesannya berikut.






Pengertian Hidrolisis Garam





Hidrolisis berasal dari kata hidro yang berarti air dan lisis yang berarti penguraian. Jadi, hidrolisis merupakan reaksi penguraian dalam air.





Hidrolisis garam adalah reaksi penguraian garam dalam air membentuk ion positif dan ion negatif. Ion-ion tersebut akan bereaksi dengan air membentuk suatu asam (H3O+) dan basa (OH) asalnya.





Hidrolisis garam merupakan reaksi penguraian antara kation dan anion garam dengan air dalam larutan.





Kation dan anion yang dapat mengalami reaksi hidrolisis adalah yang termasuk elektrolit lemah.





Sedangkan kation dan anion garam yang termasuk elektrolit kuat tidak terhidrolisis.





Hidrolisis Garam




Jenis-jenis Hidrolisis





Ditinjau dari komponen pembentuknya garam, dan banyak tidaknya garam tersebut dapat diuraikan ketika direaksikan dengan air, hidrolisis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :





1. Hidrolisis Parsial





Dalam Hidrolisis parsial, ketika garam direaksikan dengan air, hanya sebagian ion saja yang mengalami reaksi hidrolisis, sedangkan yang lainnya tidak.





Komponen-komponen penyusun garam yang mengalami reaksi hidrolisi parsial ini adalah asam lemah dan basa kuat atau sebaliknya.





2. Hidrolisis Total





Hidrolisis total ialah reaksi penguraian seluruh garam oleh air, dimana komponen garam terdiri dari asam lemah dan basa lemah. Berdasarkan jenis-jenis ion yang dihasilkan ketika garam terlarut dalam air.





3. Hidrolisis Anion





Ketika garam yang tersusun dari molekul asam lemah dan basa kuat direaksikan dengan molekul air, maka garam-garam ini hanya akan terhidrolisis sebagian/parsial didalam air dan akan menghasilkan ion yang bersifat basa (OH).





Dengan demikian, yang terhidrolisis adalah anion dari asam lemah, sedangkan kation dari basa kuat tidak terhidrolisis.





Misal :





CH3COONa(aq) → CH3COO(aq) + Na+(aq)





CH3COO +H2O ↔ CH3COOH + OH





Na+ + H2O → tidak terjadi reaksi





Berdasarkan contoh tersebut, CH3COO yang bertindak sebagai anion asam lemah terhidrolisis membentuk OH ketika garam direaksikan dengan molekul air (H2O), sedangakn Na+ yang bertindak sebagai kation dari basa kuat tidak terhidrolisis ketika direkasikan dengan molekul air.





Jadi, garam dengan komponen pembentuk asam lemah dan basa kuat yang direaksikan dengan air akan terhidrolisis sebagian dan menghasilkan ion yang bersifat basa.





4. Hidrolisis Kation





Jika garam dengan komponen penyusun asam kuat dan basa lemah dilarutkan ke dalam molekul air, maka akan mengalami suatu proses hidrolisis parsial dan menghasilkan ion yang bersifat asam (H+).





Hal ini diakibatkan karena hanya kation dari basa lemah terhidrolisis, sedangkan anion dari asam kuat tidak mengalami hidrolisis.





Misal :





NH4Cl → NH4+ + Cl





NH4+ + H2O ↔ NH4OH + H+





Cl + H2O → tidak terjadi reaksi





Dapat disimpulkan bahwa NH4+ yang bertindak sebagai basa lemah terhidrolisis menghasilkan ion yang bersifat asam, yaitu H+. Namun Cl yang sebagai anion asam kuat tidak terhidrolisis.





5. Kation dan Anion Terhidrolisis





Jika garam dengan komponen asam lemah dan basa lemah direaksikan dengan molekul air maka akan mengalami hidrolisis total.





Hal tersebut terjadi karena kation dari basa lemah ataupun anion dari asam lemah dapat terhidrolisis secara sempurna. Reaksi hidrolisis ini menghasilkan sebuah ion H+ atau OH.





Misal :





CH3COONH4 → CH3COO + NH4+





CH3COO + H2O ↔ CH3COOH + OH





NH4+ + H2O ↔ NH4OH + H+





Jadi dapat disimpulkan bahwa ke-2 komponen penyusun garam CH3COO (anion dari asam lemah) dan NH4+ (kation dari basa lemah) dapat terhidrolisis secara sempurna yang masing-masing berurutan menghasilkan ion yang bersifat basa (OH) dan akan ion yang bersifat asam (H+).





Rumus Hidrolisis Garam





1. Garam yang terbentuk dari komponen asam lemah dan basa kuat





Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat dalam air akan mengalami hidrolisis sebagian.





Komponen garam (anion asam lemah) mengalami hidrolisis menghasilkan sebuah ion OH, maka pH > 7 sehingga larutan garam bersifat basa.





Contoh





CH3COOK, CH3COONa, KCN, CaS.





Reaksi ionisasi = CH3COOK( aq ) → K+(aq) + CH3COO(aq)





Reaksi hidrolisis = K + (aq) + H2O(l)  (tidak terhidrolisis)





CH3COO(aq) + H2O(l) → CH3COOH(aq) + OH(aq) bersifat basa





Rumus :





Rumus Hidrolisis 1




Keterangan :





  • Kh: konstanta hidrolisis
  • Kw: konstanta air
  • Ka: konstanta asam
  • [G]:konsentrasi garam
  • h: derajat hidrolisis




Besarnya derajat hidrolisis dihitung dengan rumus berikut :





Rumus Derajat Hidrolisis 1




2. Garam yang terbentuk dari komponen asam kuat dan basa lemah





Garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah dalam air akan mengalami hidrolisis sebagian dikarenakan salah satu komponen garam (kation basa lemah) mengalami hidrolisis menghasilkan ion H+,maka pH < 7, sehingga larutan garam bersifat asam.





Rumus :





Rumus Hidrolisis 2




Keterangan :





  • Kh: konstanta hidrolisis
  • Kw: konstanta air
  • Kb: konstanta basa
  • [G]: konsentrasi garam
  • h: derajat hidrolisis




Besarnya derajat hidrolisis dihitung dengan rumus berikut :





Rumus Derajat Hidrolisis 2




3. Garam yang terbentuk dari komponen asam lemah dan basa lemah





Garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah dalam air akan mengalami hidrolisis total, karena kedua komponen garam (anion asam lemah dan kation basa lemah) terhidrolisis akan menghasilkan ion H+ dan ion OH, sehingga pH larutan ini bergantung pada nilai Ka dan Kb.





Rumus :





Rumus Hidrolisis 3




  • Kw: konstanta air
  • Ka: konstanta asam
  • Kb: konstanta basa
  • Kh: konstanta hidrolisis




Nilai pH dari garam ini tergantung dari nilai Ka dan Kb.





a. Jika Ka = Kb, maka larutannya bersifat netral (pH = 7)





b. Jika Ka > Kb, maka larutannya bersifat asam (pH < 7)





c. Jika Ka < Kb, maka larutannya bersifat basa (pH > 7)





Pelajari Lebih Lanjut





5 Hukum Dasar Kimia





Tabel Periodik Unsur Kimia





Koloid





Polimer





Jumlah Mol, Molaritas, Molalitas, Normalitas, & Fraksi Mol



Sumber gini.com

Kamis, 03 Desember 2020

Koloid: Pengertian, Sifat, Jenis, dan Contohnya



Pengertian Koloid





Koloid adalah campuran heterogen dari 2 zat atau lebih di mana partikel-partikel zat berukuran antara 1 hingga 1000 nm tersebar (dispersi) merata dalam medium zat lain.





Zat yang tersebar sebagai partikel disebut fase terdispersi, sedangkan zat yang menjadi medium mendispersikan partikel disebut medium pendispersi.





Secara mikroskopis, koloid terlihat seperti suspensi, yakni campuran heterogen di mana masing-masing komponen campuran cenderung saling memisah. 





Sedangkan secara makroskopis, koloid terlihat seperti larutan, di mana terbentuk campuran homogen dari zat terlarut dan pelarut.





Koloid




Sifat-sifat Koloid





Koloid memiliki beberapa sifat, yaitu:





1. Efek Tyndall





Ketika seberkas cahaya diarahkan kepada larutan, cahaya akan diteruskan. Namun, ketika berkas cahaya diarahkan kepada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan.





Efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid ini disebut efek Tyndall. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dari larutan.





Penghamburan cahaya ini terjadi karena ukuran partikel koloid hampir sama dengan panjang gelombang cahaya tampak (400 – 750 nm).





2. Gerak Brown





Secara mikroskopis, partikel-partikel koloid bergerak secara acak dengan jalur zig-zag dalam medium pendispersi. Gerakan ini disebabkan oleh terjadinya tumbukan antara partikel koloid dengan medium pendispersi.





Gerakan acak partikel ini disebut gerak Brown. Gerak Brown membantu menstabilkan partikel koloid sehingga tidak terjadi pemisahan antara partikel terdispersi dan medium pendispersi oleh pengaruh gaya gravitasi.





3. Muatan koloid





Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan negatif dan koloid bermuatan positif.





4. Adsorpsi





Partikel koloid dapat menyerap partikel-partikel lain yang bermuatan maupun tidak bermuatan pada bagian permukaannya.





Peristiwa penyerapan partikel-partikel pada permukaan zat ini disebut adsorpsi.





Partikel koloid dapat mengadsorpsi ion-ion dari medium pendispersinya sehingga partikel tersebut menjadi bermuatan listrik. Jenis muatannya bergantung pada muatan ion-ion yang diserap.





Sebagai contoh, sol Fe(OH)3 dalam air bermuatan positif karena mengadsorpsi ion-ion positif, sedangkan sol As2S3 bermuatan negatif karena mengadsorpsi ion-ion negatif.





5. Elektroforesis





Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa partikel koloid bermuatan listrik.





Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik di mana partikel bermuatan bergerak ke arah elektrode dengan muatan berlawanan ini disebut elektroforesis.





Koloid bermuatan positif akan bergerak ke arah elektrode negatif, sedangkan koloid bermuatan negatif akan bergerak ke arah elektrode positif.





Oleh karena itu, elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid dan juga untuk memisahkan partikel-partikel koloid berdasarkan ukuran partikel dan muatannya.





6. Koagulasi





Muatan listrik sejenis dari partikel-partikel koloid membantu menstabilkan sistem koloid. Jika muatan listrik tersebut hilang, partikel-partikel koloid akan menjadi tidak stabil dan bergabung membentuk gumpalan.





Proses pembentukan gumpalan-gumpalan partikel ini disebut koagulasi.





Setelah gumpalan-gumpalan ini menjadi cukup besar, gumpalan ini akhirnya akan mengendap akibat pengaruh gravitasi.





7. Koloid pelindung





Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan koloid pelindung, yakni suatu koloid yang berfungsi menstabilkan partikel koloid yang terdispersi dengan membungkus partikel tersebut sehingga tidak dapat saling bergabung membentuk gumpalan.





8. Dialisis





Dialisis adalah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semipermeabel yang berfungsi sebagai penyaring.





Membran semipermeabel ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.





Jenis-jenis Koloid





Sistem koloid dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersinya.





Berdasarkan fase terdispersi, jenis koloid dibagi menjadi 3, yaitu: 





  • sol (fase tersispersi padat)
  • emulsi (fase terdispersi cair), dan
  • buih (fase terdispersi gas)




Koloid dengan fase pendispersi gas disebut aerosol.





Sedangkan berdasarkan fase terdispersi dan pendispersinya, jenis koloid dapat dibagi menjadi 8 golongan seperti pada tabel berikut.





Fase TerdispersiFase PendispersiJenis KoloidContoh Koloid
CairGasAerosolKabut, awan, hair spray
PadatGasAerosolAsa, debu di udara
GasCairBuihBuih sabun, krim kocok
CairCairEmulsiSusu, santan, mayonnaise
PadatCairSolSol emas, tinta, cat, pasta gigi
GasPadatBuih padatKaret busa, Styrofoam, batu apung
CairPadatEmulsi padat (gel)Margarin, keju, jelly, mutiara
PadatPadatSol padatGelas berwarna, intan hitam




Demikian pembahasan tentang Koloid. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Hidrolisis Garam





5 Hukum Dasar Kimia





Tabel Periodik Unsur Kimia







Sumber gini.com