Jumat, 11 Desember 2020

Kiat Menulis Cerpen Dari Mas Ken Hanggara, Catatan Kelas Cerpen

Berawal dari pertanyaan saya terhadap Mas Ken Hanggara bagaimana kiatnya mampu menulis cerpen, maka Mas Ken pun bercerita sedikit tipsnya. Meskipun di blog nya, http://kenhanggara.blogspot.com, dia juga menuliskan tips-tipsnya menulis cerpen yang tak biasa.

Menjawab pertanyaan saya, bagaimana kiatnya menulis cerpen, jawaban Mas Ken singkat. Rajin dan pantang menyerah, banyak baca dan latihan. Terakhir harus terbuka mendapatkan segala macam kritikan. Demikian menurutnya. 

"Oke untuk memulai mungkin aku bisa sedikit memberi uraian perihal bagaimana cerpen yang baik itu dibentuk. Cerpen yang baik tidak melulu mesti memakai kosakata/diksi2 yang "wow" dan tak juga mesti membuat galau pembaca dengan pola kalimat berbelit. Cerpen sudah pantas disebut baik kalau dia:
  1. Memiliki tokoh-tokoh yang terperinci
  2. Setting waktu dan daerah yang terang
  3. Konflik yang terang dan logis
Setidaknya tiga itu yang utama. Lain-lain selaku tambahan akan dibahas mengiringi pertanyaan sahabat-sobat nanti"

TANYA JAWAB

Selain pertanyaan aku tersebut, Mas Ken juga tidak keberatan menjawab pertanyaan lain dari penerima kelas Cerpen. Berikut rangkuman wacana tanya jawab akseptor, dari kelas yang pernah aku ikuti.

1. Bagaimana cara supaya dongeng yg kita tulis tajam dan tidak bertele-tele?

Ini dari kebiasaan kita saja. Apa saja bacaan kita sehari-hari? Novel/kumcer macam apa saja? Ini juga pengaruh ke bagaimana kita menaruh diri di hadapan halaman kosong. Jika ingin nulis cerpen dengan tajam dan tak bertele-tele, carilah bacaan-bacaan dan acuan yang demikian. Lalu berlatih rutin.

2. Bagaimana dengan jenis cerpen cocok untuk koran apa? Itu bagaimana caranya? Misal cerpen bebas bukan sosial kekerasan rumah tangga, itu jenis koran apa? Apa semua yg masuk koran cerpen harus ihwal kehidupan sosial?


Untuk tahu jenis-jenis cerpen koran, bisa dibaca koran-koran tersebut. Referensi termudah dikala ini ada di web Lakon Hidup. Silakan bisa dipelajari semua aksara media di sana.

3. Apa semua cerpen yang masuk koran harus 10.000 CWS (Carakter With Space)?

Tidak. Ada macam-macam. Kebanyakan 10 ribu CWS. Tapi ada juga yang pakai satuan "kata" atau "karakter" saja atau malah halaman. Masing-masing media ada aturannya. Nanti mungkin akan dishare aturan panjang cerpen media oleh Mbak Ajeng Maharani? Ada yg max 1000 kata. Ada juga max 800 kata. Ada yang 5 ribu abjad, dsb

4. Apakah cerpen mesti ada dialog? Jika cuma bahasa hati tokoh aku, bolehkah?

Boleh saja. Tapi bisakah menjamin pembaca tak akan bosan? Kalau mampu, boleh dicoba.

5. Untuk cerpen 1000 kata dan 800 kata itu kan singkat sekali. Kalo boleh tahu di koran mana?

Radar Bromo, Fajar Makassar. Ada beberapa lagi yang lebih pendek mirip Banjarmasin Post.

Apakah cerpen dengan kalimat puitis/liris itu buruk? Tidak. Apakah cerpen dengan kalimat-kalimat lugas dan pendek-pendek itu buruk? Tidak.

Keburukan hanya akan terjadi kalau kita tak mampu menguasai bahasa dan pondasi dongeng kita sendirii. Maka tuliskanlah sesuai dengan gaya sobat-sahabat. Mana yang tenteram, tekuni itu.

6. Bagaimana kiat untuk membuat alur cerita maju mundur yang gampang dicerna oleh pembaca, agar pembaca tidak gundah?

Harus ada penunjukwaktu. Harus ada "sesuatu" yang jadi "pembelok alur" sebelum kita ganti arah alur. "Sesuatu" ini mampu apa saja dan tak mesti informasi gamblang mirip: "dua hari sebelumnya..." (yang mirip ini terlalu "jadul"). Bisa dicoba dengan menciptakan deksripsi ihwal lokasi atau kondisi si tokoh utk "pembelok alur" itu. Memang tak mudah awalnya. Dengan latihan berkala , usang-lama akan tahu celahnya. Coba juga dengan sering nonton aneka macam genre film (terurama thriller atau action). Dengan banyak menonton film, khayalan kita akan terpacu untuk lebih gampang menulis alur maju mundur yang bagus.

7. Apa boleh memakai tanda pemisah mirip acuan *** kemudia dilanjutkan dengan kalimat di paragraf selanjutnya contohnya 10 tahun berlalu.
Itu terlalu mainstream ya mas?

Bisa pakai ***. Cuma utk "10 tahun berlalu...", kok terlalu sering dipakai. Coba mirip cara saya di atas.

Baca JugaTips Membuat Paragraf Pertama Sebuah Cerpen

8. Untuk penulisan cerpen yang baik itu, lebih bagus didominasi dengan dialog, atau didominasi dengan narasi?

Tergantung kitanya lebih menguasai ke bab apanya. Baiknya takaran dibentuk berimbang dahulu. Setelah jam terbang dirasa cukup banyak, bisa eksperimen dg lebih bebas.

10. Sebetulnya berbagai pertanyaan, maklum aku ilmunya masih nol dan belum pernah mengirimkan cerpen kemanapun, selama ini menulis hanya untuk koleksi saja. Untuk pemula mungkin ada tips dari mas ken, jenis cerpen yang bagaimana yang gampang dipelajari?

Tulis cerpen dengan inspirasi-wangsit menurut pengalaman era kecil dan sekolah. Atau coba pengalaman pribadi. Ini akan lebih mudah untuk berlatih.

11. Selamat malam mas Ken Hanggara, saya mau tanya tips-tips semoga media mau menampung cerpen kita apa saja ya? Misal kalau mau dimuat di media Jawa pos kita harus perhatikan apa?

1. Harus baca setidaknya 10 cerpen di satu media untuk meraba abjad cerpen macam apa yang mereka mau.
2. Rutin kirim.
3. Pakai surat pengantar yang sopan
4. Bikin cerpen sebaik-baiknya. Jangan asal jadi lalu kirim. Edit berkali-kali dulu hingga cerpen itu "mulus" dan "matang".
5. Rajin kirim
6. Rajin kirim
7. Rajin kirim.

12. Salam kenal Mas Ken! Seringkali pandangan baru kisah kita bantu-membantu biasa saja, Nah gimana caranya biar jadi cerpen atau karya tulis yg menarik? 

Kuncinya:
1. Ide biasa ditulis dengan cara pandang, karakterisasi, gaya bahasa, yang tak biasa.
2. Ide luar biasa ditulis dengan bahasa yang sederhana dan lugas. 
Trik ini banyak dipakai oleh penulis-penulis besar. Coba baca cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan, Yusi Avianto Pareanom, AS Laksana, sebagai contohnya. Sebagian cerpen mereka idenya sederhana namun karenanya hebat.

13. Saya telah halaman 4, tetapi masih belum naik juga konfliknya. Apa idenya yang gak menawan atau bagaimana?

Membangun cerita itu mesti bersabar. Tapi jangan terlalu tabah sampai lupa menuju pertentangan. Harus proporsional. Coba buat kerangka cerita dulu. Misal target cerpen 5 halaman, sebelum halaman 3 sudah harus ada percikan-percikan menuju pertentangan.

14. Untuk cerpen itu optimal mesti ada berapa tokoh? dan bolehkah cerpen itu tanpa konflik?
Idealnya 2-4 tokoh. Tapi bila buat aku pribadi, biasanya 2-3 saja. Terlalu banyak tokoh tak akan manis akhirnya. Pendalaman abjad akan kurang. Cerpen bukan novel yang lumayan panjang. Di novel, untuk mendalami abjad sebanyak 8-10 orang sekalipun, niscaya bisa. Di cerpen, terperinci tidak.

15. Saya merasa galau dalam penggunaan POV. Adakah saran dalam penggunaan POV yang bagus?

POV (Point Of View) yang paling kondusif, POV 1 (bisa pakai "saya", "aku", "gue", dsb untuk narator). Si "saya" terlibat dalam kisah dan kita tinggal mengikuti alur saja.


16. Untuk judul cerpen suatu koran, apa ada minimal atau optimal jumlah kata (pada judul)?

Kalau judul, saya kira bebas. Ada media yang mau menerima judul belasan kata, asal anggun dan pas. Tapi beberapa redaktur biasanya tak suka judul panjang. Tempo hari pernah ada aturan maksimal 4 kata saja untuk judul cerpen di Media Indonesia. Entah kini. Jawa Pos dan Koran Tempo yang umum sering aku temui menampung judul-judul panjang. Media-media setempat pun tergantung. Faktor lain yang juga besar lengan berkuasa yaitu ruang di halaman rubrik tersebut; apakah pada minggu-ahad itu tersedia atau tidak? Karena tiap media kadang ruang rubriknya berganti luas sebab adanya "kotak iklan" yang beda-beda ukuran. Untuk jaga-jaga baiknya pakai judul yang wajar saja.


17. Pertanyaan yang ini bukan perihal cerpen. Tapi ingin tau, siapa guru menulis cerpen Ken Hanggara? Dan buku bacaan apa yang diminati? Satu judul cerpen yang terkhir dibaca dalam pekan ini berjudul apa?

Saya tidak mencar ilmu secara langsung ke siapa2. Hanya mencar ilmu dari buku2 karya banyak penulis dalam dan mancanegara. Susah juga menyebut buku terfavorit alasannya saking banyaknya. api utk menyebut sebagian saja ada Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan, Ernest Hemingway, Hanan Al-Shaikh, Mark Haddon, Junot Diaz, Stephen King, Ayu Utami. Kalau disebut semua seperti ga akan cukup waktunya. Karena saking banyaknya.

PENUTUP 

Menulis cerpen yang baik itu pada dasarnya ada pada seberapa rutin dan niat kita berlatih. Di awal-awal mungkin kita akan terpancing mengekor gaya atau ciri khas penulis favorit kita. Itu wajar, tetapi bila bisa bertekadlah menuju pada ciri khas sendiri. Proses ini tak sebentar. Hanya mereka yang punya tiga hal ini yang bisa:
  1. keteguhan
  2. ketabahan
  3. kehendak tak putus utk mencoba menulis cerpen yang "beda" dan terus berkreasi. 
Sebab penulis ialah seniman yang harus kreatif berpikir dan beraksi. Memang tak ada yang baru di dunia ini. Tak ada. Tapi cobalah untuk jadi "istimewa". Motivasi diri semoga cerpen-ceren kita "kudu" istimewa. Bagaimana cara biar tahu itu istimewa? Banyak baca cerpen punya para penulis. Dengan tahu banyak cerpen, kita pun tahu "warna" cerpen macam apa saja yang pasaran dan tidak.
(Ken Hanggara, 2019)

Sumber https://www.aansupriyanto.com/


EmoticonEmoticon