Selasa, 07 Januari 2020

Selalu Ada Alasan untuk Tersenyum Edisi I

Hari

ini teman saya tanya gini sama saya: “ini kok nomornya salah ya bang”. Trus

saya lirik (emangnya cewek doang yang

harus


dilirik
) sedikit kearahnya untuk liat

nomor yang di maksudkan tadi. Saya

jawab gini: “oooo, itu bukan angka 9 melainkan angka 6” saya kebalik nulisnya,

diganti aja, lanjut ku.


Emang

sering terjadi angka 9 ditulis menjadi angka 6, karena itulah ada posisi 69 yang paling fenomenal hingga sekarang,

sambung ku lagi…


Tak

ada reaksi apa-apa dari orang-orang yang mendengar ku tadi. Dan untungnya setelah 45 detik kemudian (kalo gak pas

tak usah protes, soalnya
gak

sempat ngitung durasi waktunya
) seorang

teman yang lain ketawa ketiwi

cekikikan, mendengar celoteh saya. Hahahaha, saya pun bergi berlalu, lambat banget loadingnya broh….


Tak

lama kemudian saya keluar ruangan menuju toilet, dalam toilet saya mulai mikir lagi, kok bisa

ya saya kepikiran jawaban seperti tadi. Dan kalau gak salah kan itu teknik nomor

7 dalam buku KAMASUTRA, ah kacau nih pikiran ku, bisik ku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


Selalu Ada Alasan untuk Tersenyum


Kejadian

yang tadi udah lewat, sekarang saya melihat seorang teman yang lain, dia paling

sering melemparkan senyum kepada klien (mudah-mudahan aja giginya gak kering

ya), dan ah senyumnya amat manis.


Pas

ada perlu, saya memanggilnya dengan cara yang tak biasa. Seharusnya namanya

sudah bagus adanya, hadiah dari orang tua. Namanya SUNITA, oleh ku sengaja ku

plesetkan dengan nama panggilan “Teng”.


Dan

benar saja, senyumnya yang sumringah berubah menjadi kecut, dan ah lagi-lagi

saya ketawa ketiwi dibelakangnya. Sekali lagi, saya harus senyum-senyum sendiri.


Selama

3 hari belakagnan ini, teman saya yang namanya “MAMAT” yang sering bikin ketawa

dan tergolong yang paling kocak, gak masuk kerja, trus si bos bilang gini:

“sepi juga ya gak ada si Mamat, si “w” udah turun belom?” udah pak, jawab teman

yang satunya lagi (sengaja namanya saya sensor).


Sementara

itu, saya hanya menjawa dalam hati “pak, kalau mau ramai, panggil aja drum

band, sekalian dengan marawis biar makin rame”. Dan ah, saya lagi-lagi harus senyum-senyum sendiri.


Banyak

hal lucu dan unik disekeliling kita, terkadang tanpa kita sadari bisa membuat

kita tersenyum. Jika kita mau membuka hati untuk mentertawakan diri sendiri

ataupun tingkah orang-orang disekeliling kita, saya yakin gelak tawa akan

selalu menghiasi aktivitas kita.


Di

maki-maki orang pun sebenarnya kita masih bisa tersenyum, jadilah pengamat dan

temukan kelucuan dari makian orang tersebut.


Di

omelin sekalipun kita masih bisa ketawa, apalagi di ketawain orang, udah pasti

kita juga bisa membalasnya dengan ketawa nyengir.


Diperlukan

sense of humor yang tinggi agar kita bisa selalu tersenyum, meskipun ditengah

kesibukan, keruwetan dan kebosanan bahkan ditengah derita sekalipun.


Membayangkan

pembaca yang akan membaca tulisan ini pun saya sambil tersenyum, dan sekali

lagi saya hanya bisa senyum-senyum

sendiri
.


Jangan

kebanyakan senyum sendiri, bisa dibilang gelo! Biar jelek yang penting murah senyum, karena senyum adalah obat stres.


Selalu

ada alasan untuk tersenyum, jadi masihkah Anda mencari-cari alasan untuk tidak

tersenyum?

 



Seruput

dulu sambil senyum biar makin lancar rejekinya!




Sumber er.com


EmoticonEmoticon